Kata-Kata Anak Broken Home yang Menyayat Hati

sisca


Kata-Kata Anak Broken Home yang Menyayat Hati

Broken home merupakan kondisi dimana sebuah keluarga mengalami perpecahan atau keretakan, baik secara emosional maupun fisik. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, atau masalah keuangan. Anak-anak yang tumbuh dalam broken home seringkali mengalami berbagai masalah, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Mereka mungkin merasa tidak aman, tidak dicintai, dan tidak memiliki tempat untuk bergantung. Anak-anak broken home juga lebih berisiko mengalami masalah perilaku, seperti agresi, kenakalan, dan depresi.

Sebagai orang tua, penting untuk memahami dampak broken home terhadap anak-anak. Dengan memahami dampak ini, orang tua dapat memberikan dukungan dan bantuan yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Salah satu cara untuk mendukung anak-anak broken home adalah dengan mendengarkan mereka. Biarkan mereka mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka tentang perceraian atau perpisahan orang tua mereka. Jangan mengabaikan atau meremehkan perasaan mereka, meskipun Anda mungkin tidak setuju dengan apa yang mereka katakan.

Berikut adalah beberapa kata-kata dari anak-anak broken home yang dapat membantu Anda memahami perasaan dan pemikiran mereka:

kata kata anak broken home

Isilah hati yang terluka:

  • Aku ingin keluarga yang utuh.
  • Aku merasa tidak dicintai.
  • Aku tidak punya tempat tinggal.
  • Aku takut.
  • Aku marah.
  • Aku sedih.
  • Aku ingin semuanya kembali seperti semula.

Kata-kata ini menunjukkan betapa besar rasa sakit dan kehilangan yang dialami oleh anak-anak broken home. Mereka membutuhkan dukungan dan bantuan dari orang-orang dewasa di sekitar mereka untuk dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.

Aku ingin keluarga yang utuh.

Bagi seorang anak, keluarga adalah tempat yang aman dan nyaman. Keluarga adalah tempat di mana anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Namun, bagi anak-anak broken home, keluarga bukanlah tempat yang aman dan nyaman. Mereka mungkin merasa tidak dicintai, tidak diinginkan, dan tidak memiliki tempat untuk bergantung. Akibatnya, mereka seringkali mengucapkan kata-kata, “Aku ingin keluarga yang utuh.”

Kata-kata ini menunjukkan betapa besar keinginan anak-anak broken home untuk memiliki keluarga yang utuh. Mereka ingin memiliki ayah dan ibu yang saling mencintai dan menyayangi mereka. Mereka ingin memiliki saudara kandung yang dapat mereka ajak bermain dan berbagi cerita. Mereka ingin memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia.

Namun, keinginan anak-anak broken home untuk memiliki keluarga yang utuh seringkali tidak dapat terwujud. Orang tua mereka mungkin sudah bercerai atau berpisah, dan mereka tidak dapat hidup bersama lagi. Anak-anak broken home mungkin harus tinggal dengan salah satu orang tua mereka, atau bahkan dengan keluarga lain. Hal ini tentu saja membuat mereka merasa sedih dan kesepian.

Meskipun demikian, anak-anak broken home tetap berharap bahwa suatu saat nanti mereka dapat memiliki keluarga yang utuh. Mereka berharap bahwa orang tua mereka dapat rujuk kembali, atau mereka dapat menemukan keluarga baru yang dapat menerima dan menyayangi mereka.

Sebagai orang dewasa, kita dapat membantu anak-anak broken home untuk mewujudkan keinginan mereka untuk memiliki keluarga yang utuh. Kita dapat memberikan mereka dukungan dan bantuan yang mereka butuhkan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Kita juga dapat membantu mereka untuk menemukan keluarga baru yang dapat menerima dan menyayangi mereka.

Aku merasa tidak dicintai.

Salah satu hal yang paling menyakitkan bagi anak-anak broken home adalah perasaan tidak dicintai. Mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka tidak lagi menyayangi mereka, atau bahwa mereka tidak diinginkan oleh keluarga mereka. Perasaan tidak dicintai ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya:

  • Orang tua yang sibuk dan tidak punya waktu untuk anak-anak mereka.

    Orang tua yang sibuk bekerja atau memiliki banyak kegiatan lain mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk anak-anak mereka. Akibatnya, anak-anak merasa bahwa mereka tidak diperhatikan dan tidak dicintai.

  • Orang tua yang sering bertengkar atau bercerai.

    Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang sering bertengkar atau bercerai mungkin merasa bahwa mereka tidak dicintai oleh orang tua mereka. Mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka lebih mementingkan diri sendiri daripada anak-anak mereka.

  • Orang tua yang kasar atau abusive.

    Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang kasar atau abusive mungkin merasa bahwa mereka tidak dicintai oleh orang tua mereka. Mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka tidak menghargai dan tidak menyayangi mereka.

  • Orang tua yang memiliki masalah mental atau kecanduan.

    Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang memiliki masalah mental atau kecanduan mungkin merasa bahwa mereka tidak dicintai oleh orang tua mereka. Mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka tidak mampu merawat dan melindungi mereka.

Perasaan tidak dicintai dapat memiliki dampak yang sangat negatif terhadap anak-anak broken home. Mereka mungkin mengalami masalah perilaku, seperti agresi, kenakalan, dan depresi. Mereka juga mungkin mengalami masalah akademis dan sosial. Oleh karena itu, penting bagi orang dewasa untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada anak-anak broken home untuk mengatasi perasaan tidak dicintai yang mereka alami.

Aku tidak punya tempat tinggal.

Bagi seorang anak, rumah adalah tempat yang aman dan nyaman. Rumah adalah tempat di mana anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Namun, bagi anak-anak broken home, rumah bukanlah tempat yang aman dan nyaman. Mereka mungkin harus tinggal di tempat penampungan sementara, atau bahkan di jalanan. Hal ini tentu saja membuat mereka merasa tidak memiliki tempat tinggal.

  • Orang tua yang tidak mampu menyediakan tempat tinggal yang layak untuk anak-anak mereka.

    Orang tua yang miskin atau tidak memiliki pekerjaan mungkin tidak mampu menyediakan tempat tinggal yang layak untuk anak-anak mereka. Akibatnya, anak-anak mereka harus tinggal di tempat penampungan sementara, atau bahkan di jalanan.

  • Orang tua yang tidak peduli dengan anak-anak mereka.

    Orang tua yang tidak peduli dengan anak-anak mereka mungkin tidak menyediakan tempat tinggal yang layak untuk anak-anak mereka. Mereka mungkin membiarkan anak-anak mereka tinggal di tempat yang tidak layak huni, atau bahkan membiarkan mereka tinggal di jalanan.

  • Orang tua yang kasar atau abusive.

    Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang kasar atau abusive mungkin merasa tidak aman tinggal di rumah mereka. Mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka akan menyakiti mereka, atau bahkan membunuh mereka. Akibatnya, mereka mungkin memilih untuk meninggalkan rumah dan tinggal di jalanan.

  • Anak-anak yang kabur dari rumah.

    Anak-anak yang kabur dari rumah mungkin tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Mereka mungkin terpaksa tinggal di jalanan, atau di tempat-tempat yang tidak layak huni.

Anak-anak yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak menghadapi berbagai risiko, seperti kekerasan, pelecehan seksual, dan eksploitasi. Mereka juga mungkin mengalami masalah kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memberikan bantuan kepada anak-anak yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak.

Aku takut.

Anak-anak broken home seringkali merasa takut. Mereka mungkin takut ditinggalkan oleh orang tua mereka, atau takut orang tua mereka akan bertengkar atau bercerai. Mereka juga mungkin takut akan masa depan mereka. Hal ini tentu saja membuat mereka merasa tidak aman dan tidak nyaman.

  • Takut ditinggalkan oleh orang tua.

    Anak-anak broken home seringkali takut ditinggalkan oleh orang tua mereka. Mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka tidak lagi menyayangi mereka, atau bahwa mereka tidak diinginkan oleh keluarga mereka. Akibatnya, mereka mungkin merasa tidak aman dan tidak nyaman.

  • Takut orang tua akan bertengkar atau bercerai.

    Anak-anak broken home seringkali takut orang tua mereka akan bertengkar atau bercerai. Mereka mungkin pernah melihat orang tua mereka bertengkar atau bercerai, dan mereka tidak ingin mengalami hal yang sama. Akibatnya, mereka mungkin merasa cemas dan khawatir.

  • Takut akan masa depan.

    Anak-anak broken home seringkali takut akan masa depan mereka. Mereka mungkin tidak tahu di mana mereka akan tinggal, atau bagaimana mereka akan menghidupi diri mereka sendiri. Mereka juga mungkin takut tidak akan bisa mendapatkan pendidikan yang baik, atau tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Akibatnya, mereka mungkin merasa tidak pasti dan tidak bersemangat.

  • Takut akan kekerasan atau pelecehan.

    Anak-anak broken home seringkali takut akan kekerasan atau pelecehan. Mereka mungkin pernah mengalami kekerasan atau pelecehan di rumah, atau mereka mungkin pernah melihat kekerasan atau pelecehan di lingkungan mereka. Akibatnya, mereka mungkin merasa tidak aman dan tidak nyaman.

Ketakutan yang dialami oleh anak-anak broken home dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan perkembangan mereka. Mereka mungkin mengalami masalah kecemasan, depresi, dan PTSD. Mereka juga mungkin mengalami masalah perilaku, seperti agresi, kenakalan, dan penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu, penting bagi orang dewasa untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada anak-anak broken home untuk mengatasi ketakutan yang mereka alami.

Aku marah.

Anak-anak broken home seringkali merasa marah. Mereka mungkin marah kepada orang tua mereka, kepada keluarga mereka, atau kepada dunia. Kemarahan mereka mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya:

Perceraian atau perpisahan orang tua. Perceraian atau perpisahan orang tua dapat membuat anak-anak merasa marah dan kesal. Mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka tidak lagi menyayangi mereka, atau bahwa mereka tidak diinginkan oleh keluarga mereka. Mereka juga mungkin merasa bahwa hidup mereka tidak adil, karena mereka harus mengalami perceraian atau perpisahan orang tua.

Kekerasan atau pelecehan. Anak-anak broken home yang mengalami kekerasan atau pelecehan mungkin merasa marah kepada orang tua mereka, atau kepada orang lain yang telah menyakiti mereka. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak pantas mendapatkan perlakuan yang buruk, dan mereka mungkin ingin membalas dendam kepada orang yang telah menyakiti mereka.

Penelantaran. Anak-anak broken home yang ditelantarkan oleh orang tua mereka mungkin merasa marah kepada orang tua mereka, atau kepada orang lain yang seharusnya bertanggung jawab atas perawatan mereka. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak dicintai dan tidak diinginkan, dan mereka mungkin merasa bahwa hidup mereka tidak berharga.

Ketidakadilan. Anak-anak broken home seringkali merasa bahwa mereka diperlakukan tidak adil. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama seperti anak-anak lain, atau bahwa mereka tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

Kemarahan yang dialami oleh anak-anak broken home dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan perkembangan mereka. Mereka mungkin mengalami masalah perilaku, seperti agresi, kenakalan, dan penyalahgunaan narkoba. Mereka juga mungkin mengalami masalah akademis dan sosial. Oleh karena itu, penting bagi orang dewasa untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada anak-anak broken home untuk mengatasi kemarahan yang mereka alami.

Aku sedih.

Anak-anak broken home seringkali merasa sedih. Kesedihan mereka mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya:

Perceraian atau perpisahan orang tua. Perceraian atau perpisahan orang tua dapat membuat anak-anak merasa sedih dan kehilangan. Mereka mungkin merasa bahwa keluarga mereka tidak lagi utuh, dan mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman. Mereka juga mungkin merasa bahwa hidup mereka tidak adil, karena mereka harus mengalami perceraian atau perpisahan orang tua.

Kekerasan atau pelecehan. Anak-anak broken home yang mengalami kekerasan atau pelecehan mungkin merasa sedih dan tertekan. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak pantas mendapatkan perlakuan yang buruk, dan mereka mungkin merasa bahwa hidup mereka tidak berharga. Mereka juga mungkin merasa takut dan cemas, karena mereka tidak tahu kapan kekerasan atau pelecehan akan terjadi lagi.

Penelantaran. Anak-anak broken home yang ditelantarkan oleh orang tua mereka mungkin merasa sedih dan kesepian. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak dicintai dan tidak diinginkan, dan mereka mungkin merasa bahwa hidup mereka tidak berharga. Mereka juga mungkin merasa marah dan kesal, karena mereka merasa bahwa orang tua mereka tidak bertanggung jawab atas perawatan mereka.

Kehilangan orang yang dicintai. Anak-anak broken home mungkin juga merasa sedih karena kehilangan orang yang dicintai, seperti kakek-nenek, saudara kandung, atau teman dekat. Kehilangan orang yang dicintai dapat membuat anak-anak merasa sedih dan kehilangan, dan mereka mungkin merasa bahwa hidup mereka tidak lagi sama.

Kesedihan yang dialami oleh anak-anak broken home dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan perkembangan mereka. Mereka mungkin mengalami masalah perilaku, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan nafsu makan. Mereka juga mungkin mengalami masalah akademis dan sosial. Oleh karena itu, penting bagi orang dewasa untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada anak-anak broken home untuk mengatasi kesedihan yang mereka alami.

Aku ingin semuanya kembali seperti semula.

Anak-anak broken home seringkali berharap bahwa semuanya bisa kembali seperti semula. Mereka berharap bahwa orang tua mereka rujuk kembali, dan keluarga mereka kembali utuh. Mereka berharap bahwa mereka dapat hidup bahagia bersama kedua orang tua mereka, dan mereka tidak perlu mengalami perceraian atau perpisahan orang tua.

Namun, harapan anak-anak broken home untuk semuanya kembali seperti semula seringkali tidak dapat terwujud. Orang tua mereka mungkin sudah bercerai atau berpisah, dan mereka tidak dapat hidup bersama lagi. Anak-anak broken home mungkin harus tinggal dengan salah satu orang tua mereka, atau bahkan dengan keluarga lain. Hal ini tentu saja membuat mereka merasa sedih dan kecewa.

Meskipun demikian, anak-anak broken home tetap berharap bahwa suatu saat nanti semuanya bisa kembali seperti semula. Mereka berharap bahwa orang tua mereka dapat rujuk kembali, atau mereka dapat menemukan keluarga baru yang dapat menerima dan menyayangi mereka.

Harapan anak-anak broken home untuk semuanya kembali seperti semula menunjukkan bahwa mereka masih memiliki harapan untuk masa depan. Mereka masih percaya bahwa hidup mereka bisa menjadi lebih baik, dan mereka masih memiliki harapan untuk memiliki keluarga yang bahagia dan utuh.

Sebagai orang dewasa, kita dapat membantu anak-anak broken home untuk mewujudkan harapan mereka. Kita dapat memberikan mereka dukungan dan bantuan yang mereka butuhkan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Kita juga dapat membantu mereka untuk menemukan keluarga baru yang dapat menerima dan menyayangi mereka.

FAQ

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan oleh anak-anak broken home:

Pertanyaan 1: Mengapa orang tua saya bercerai?

Jawaban: Perceraian adalah keputusan yang sulit bagi orang tua. Ada banyak alasan mengapa orang tua bercerai, seperti perbedaan pendapat, masalah keuangan, atau perselingkuhan. Apa pun alasannya, perceraian bukanlah kesalahanmu. Kamu tidak dapat mengendalikan keputusan orang tuamu, dan kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri.

Pertanyaan 2: Apakah saya akan baik-baik saja setelah perceraian orang tua saya?

Jawaban: Perceraian memang sulit, tetapi kamu akan baik-baik saja. Kamu mungkin merasa sedih, marah, atau bingung pada awalnya, tetapi seiring berjalannya waktu, kamu akan mulai merasa lebih baik. Kamu memiliki orang-orang yang mencintaimu dan mendukungmu, seperti keluarga dan teman-temanmu. Kamu juga dapat berbicara dengan konselor atau terapis untuk membantumu mengatasi perasaanmu.

Pertanyaan 3: Di mana saya akan tinggal setelah perceraian orang tua saya?

Jawaban: Setelah perceraian orang tua, kamu mungkin akan tinggal dengan salah satu orang tuamu. Kamu mungkin juga akan menghabiskan waktu dengan orang tua lainnya. Pengaturan tempat tinggal dapat berbeda-beda, tergantung pada situasi keluargamu. Yang penting, kamu harus merasa aman dan nyaman di tempat tinggalmu.

Pertanyaan 4: Bagaimana saya bisa mengatasi perasaan sedih dan marah setelah perceraian orang tua saya?

Jawaban: Wajar jika kamu merasa sedih dan marah setelah perceraian orang tua. Kamu mungkin merasa kehilangan keluarga yang utuh, dan kamu mungkin merasa tidak dicintai atau tidak diinginkan. Cobalah untuk mengekspresikan perasaanmu dengan cara yang sehat, seperti berbicara dengan teman atau keluarga, menulis di buku harian, atau berolahraga. Kamu juga dapat berbicara dengan konselor atau terapis untuk membantumu mengatasi perasaanmu.

Pertanyaan 5: Apakah saya dapat memiliki keluarga yang bahagia lagi?

Jawaban: Ya, kamu dapat memiliki keluarga yang bahagia lagi. Perceraian tidak berarti bahwa kamu tidak dapat memiliki keluarga yang bahagia. Kamu mungkin perlu waktu untuk menemukan keluarga baru, tetapi kamu akan menemukannya pada akhirnya. Keluarga baru kamu mungkin terdiri dari orang tua tunggal, orang tua tiri, saudara tiri, atau bahkan teman-teman dekat.

Pertanyaan 6: Apa yang dapat saya lakukan untuk membantu keluarga saya setelah perceraian?

Jawaban: Ada banyak hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu keluarga setelah perceraian. Kamu dapat membantu orang tuamu dengan tugas-tugas rumah, seperti memasak, membersihkan, dan mencuci pakaian. Kamu juga dapat membantu adik-adikmu dengan pekerjaan sekolah mereka, atau bermain bersama mereka. Yang terpenting, kamu harus menunjukkan kepada keluarga bahwa kamu mencintai mereka dan mendukung mereka.

Perceraian memang sulit, tetapi kamu akan baik-baik saja. Kamu memiliki orang-orang yang mencintaimu dan mendukungmu. Kamu juga dapat berbicara dengan konselor atau terapis untuk membantumu mengatasi perasaanmu. Ingatlah bahwa kamu tidak sendirian, dan kamu akan menemukan kebahagiaan lagi.

Berikut adalah beberapa tips untuk anak-anak broken home:

Tips

Berikut adalah beberapa tips untuk anak-anak broken home:

1. Jangan menyalahkan diri sendiri. Perceraian orang tua bukanlah kesalahanmu. Kamu tidak dapat mengendalikan keputusan orang tuamu, dan kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri.

2. Ekspresikan perasaanmu dengan cara yang sehat. Wajar jika kamu merasa sedih, marah, atau bingung setelah perceraian orang tua. Cobalah untuk mengekspresikan perasaanmu dengan cara yang sehat, seperti berbicara dengan teman atau keluarga, menulis di buku harian, atau berolahraga. Kamu juga dapat berbicara dengan konselor atau terapis untuk membantumu mengatasi perasaanmu.

3. Habiskan waktu dengan orang-orang yang kamu cintai. Setelah perceraian orang tua, kamu mungkin merasa kesepian dan sendirian. Cobalah untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kamu cintai, seperti keluarga dan teman-teman. Mereka akan mendukungmu dan membantumu melewati masa sulit ini.

4. Fokus pada hal-hal positif. Meskipun perceraian orang tua adalah hal yang sulit, cobalah untuk fokus pada hal-hal positif dalam hidupmu. Pikirkan tentang hal-hal yang kamu sukai dan hal-hal yang membuatmu bahagia. Ini akan membantumu untuk tetap semangat dan optimis.

Perceraian orang tua memang sulit, tetapi kamu akan baik-baik saja. Kamu memiliki orang-orang yang mencintaimu dan mendukungmu. Kamu juga dapat berbicara dengan konselor atau terapis untuk membantumu mengatasi perasaanmu. Ingatlah bahwa kamu tidak sendirian, dan kamu akan menemukan kebahagiaan lagi.

Perceraian orang tua dapat menjadi pengalaman yang traumatis bagi anak-anak. Namun, dengan dukungan yang tepat, anak-anak broken home dapat mengatasi trauma tersebut dan tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan bahagia.

Conclusion

Anak-anak broken home menghadapi banyak tantangan dalam hidup mereka. Mereka mungkin merasa sedih, marah, bingung, dan kesepian. Mereka mungkin juga mengalami masalah perilaku dan akademis. Namun, dengan dukungan yang tepat, anak-anak broken home dapat mengatasi trauma tersebut dan tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan bahagia.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak broken home:

  • Dukung mereka secara emosional.
  • Bantu mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang sehat.
  • Habiskan waktu bersama mereka.
  • Fokus pada hal-hal positif.
  • Bantu mereka untuk mengembangkan keterampilan mengatasi masalah.
  • Bicarakan dengan konselor atau terapis jika diperlukan.

Perceraian orang tua memang sulit bagi anak-anak, tetapi mereka akan baik-baik saja dengan dukungan yang tepat. Mereka memiliki kekuatan dan ketahanan untuk mengatasi tantangan ini dan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia dan sukses.

Untuk anak-anak broken home, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Ada banyak orang yang mencintaimu dan mendukungmu. Kamu juga dapat berbicara dengan konselor atau terapis untuk membantumu mengatasi perasaanmu. Kamu kuat dan kamu akan baik-baik saja.


Rekomendasi Herbal Alami :

Artikel Terkait

Bagikan:

sisca

Halo, Perkenalkan nama saya Sisca. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow www.birdsnbees.co.id ya.. Terimakasih..

Tags

Ikuti di Google News

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Story Terbaru