Puisi Tentang Idul Adha

sisca


Puisi Tentang Idul Adha

Puisi tentang Idul Adha merupakan karya sastra yang mengangkat tema perayaan Idul Adha dalam Islam. Puisi ini biasanya berisi ungkapan rasa syukur, doa, dan harapan terkait dengan momen pengorbanan dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Puisi tentang Idul Adha memiliki banyak manfaat, antara lain: menumbuhkan keimanan dan ketakwaan, menginspirasi semangat pengorbanan, serta mempererat tali silaturahmi sesama umat Islam. Salah satu perkembangan sejarah penting dalam tradisi puisi tentang Idul Adha adalah munculnya genre prosa liris yang memadukan unsur puisi dan prosa dalam karya-karyanya.

Selanjutnya, artikel ini akan membahas lebih mendalam tentang berbagai aspek puisi tentang Idul Adha, mulai dari teknik penulisan hingga pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia.

Puisi tentang Idul Adha

Aspek-aspek penting puisi tentang Idul Adha meliputi:

  • Tema: Idul Adha dan pengorbanan
  • Struktur: Bebas atau terikat
  • Bahasa: Puitis dan simbolis
  • Nada: Khidmat dan reflektif
  • Tipografi: Diatur sedemikian rupa untuk menciptakan efek visual
  • Gaya: Beragam, mulai dari klasik hingga kontemporer
  • Pesan: Menginspirasi, memotivasi, dan menyentuh hati
  • Pengaruh: Mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia

Aspek-aspek ini saling terkait dan berkontribusi pada kekuatan dan keindahan puisi tentang Idul Adha. Misalnya, penggunaan bahasa puitis dan simbolis memungkinkan penyair menyampaikan pesan dengan cara yang mendalam dan bermakna. Selain itu, gaya penulisan yang beragam menunjukkan kekayaan dan fleksibilitas puisi tentang Idul Adha sebagai bentuk ekspresi sastra.

Tema

Tema Idul Adha dan pengorbanan merupakan aspek yang sangat penting dalam puisi tentang Idul Adha. Sebab, Idul Adha merupakan hari raya yang identik dengan peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim AS atas putranya, Ismail AS. Peristiwa ini menjadi simbol ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam puisi tentang Idul Adha, tema pengorbanan ini sering diangkat sebagai pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa berkorban di jalan Allah. Pengorbanan yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk waktu, tenaga, dan bahkan nyawa jika diperlukan. Melalui puisi, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan makna pengorbanan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, dalam puisi “Idul Adha” karya Taufiq Ismail, penyair melukiskan pengorbanan Nabi Ibrahim AS sebagai sebuah ujian keimanan yang luar biasa. Puisi tersebut menggambarkan kesediaan Nabi Ibrahim AS untuk mengorbankan putranya tercinta demi membuktikan ketaatannya kepada Allah SWT. Melalui puisi ini, penyair mengajak pembaca untuk meneladani semangat pengorbanan Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Dengan demikian, tema Idul Adha dan pengorbanan menjadi komponen penting dalam puisi tentang Idul Adha karena memberikan makna dan pesan yang mendalam tentang nilai-nilai keislaman, seperti ketakwaan, ketaatan, dan semangat pengorbanan. Tema ini menginspirasi penyair untuk menciptakan karya-karya sastra yang menyentuh hati dan menggugah kesadaran umat Islam.

Struktur

Struktur puisi tentang Idul Adha dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu struktur bebas dan struktur terikat. Struktur bebas memberikan keleluasaan bagi penyair untuk mengekspresikan gagasannya tanpa terikat oleh aturan-aturan tertentu. Sementara itu, struktur terikat mengharuskan penyair mengikuti kaidah-kaidah tertentu, seperti jumlah baris, suku kata, dan rima.

  • Struktur Bebas

    Struktur bebas memungkinkan penyair untuk bereksperimen dengan berbagai bentuk dan gaya penulisan. Penyair dapat menentukan sendiri jumlah baris, suku kata, dan rima dalam puisinya. Struktur bebas sering digunakan oleh penyair kontemporer untuk mengekspresikan gagasan dan emosi yang kompleks.

  • Struktur Terikat

    Struktur terikat mengharuskan penyair untuk mengikuti aturan-aturan tertentu dalam penulisan puisinya. Beberapa bentuk puisi terikat yang populer antara lain pantun, syair, dan . Penyair harus menyesuaikan gagasan dan emosinya dengan kaidah-kaidah struktur terikat yang dipilihnya.

Baik struktur bebas maupun struktur terikat memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Struktur bebas memberikan kebebasan bagi penyair untuk bereksperimen dan mengekspresikan gagasannya dengan cara yang unik. Sementara itu, struktur terikat memberikan tantangan tersendiri bagi penyair untuk menuangkan gagasan dan emosinya dalam bentuk yang tertata dan harmonis.

Bahasa

Bahasa puitis dan simbolis merupakan ciri khas puisi tentang Idul Adha. Bahasa puitis digunakan untuk menciptakan kesan indah, khidmat, dan penuh makna. Sementara itu, bahasa simbolis digunakan untuk menyampaikan pesan atau makna yang lebih dalam melalui penggunaan simbol-simbol tertentu.

Bahasa puitis dalam puisi tentang Idul Adha dapat berupa penggunaan majas, metafora, personifikasi, dan sebagainya. Majas digunakan untuk membuat ungkapan lebih hidup dan menarik, seperti dalam puisi “Idul Adha” karya Taufiq Ismail yang menggunakan majas personifikasi pada baris “Takbir bergema menggetarkan jagat raya”. Metafora digunakan untuk membandingkan dua hal yang berbeda, seperti dalam puisi “Idul Kurban” karya Emha Ainun Nadjib yang menggunakan metafora “hari raya adalah pisau tajam”.

Bahasa simbolis dalam puisi tentang Idul Adha seringkali menggunakan simbol-simbol yang berkaitan dengan peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Misalnya, simbol “kurban” melambangkan pengorbanan dan keikhlasan, simbol “pisau” melambangkan ujian dan cobaan, dan simbol “daging kurban” melambangkan pemberian dan berbagi.

Dengan menggunakan bahasa puitis dan simbolis, penyair dapat menyampaikan pesan dan makna Idul Adha secara lebih mendalam dan berkesan. Puisi tentang Idul Adha tidak hanya sekedar menggambarkan peristiwa pengorbanan, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan makna pengorbanan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nada

Dalam puisi tentang Idul Adha, nada khidmat dan reflektif sangat penting untuk menciptakan suasana yang sesuai dengan tema perayaan tersebut. Nada khidmat membangkitkan perasaan hormat dan kekaguman, sedangkan nada reflektif mendorong pembaca untuk merenungkan makna dan hikmah Idul Adha.

  • Kesungguhan

    Nada khidmat dalam puisi tentang Idul Adha terwujud melalui penggunaan bahasa yang formal dan pilihan kata yang berbobot. Penyair menggunakan kata-kata yang mengandung makna mendalam dan sakral, seperti “kurban”, “pengorbanan”, dan “keikhlasan”.

  • Kontemplasi

    Nada reflektif dalam puisi tentang Idul Adha mengajak pembaca untuk merenungkan makna pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Penyair menggunakan ungkapan-ungkapan yang menggugah pikiran dan perasaan, seperti “pengorbanan yang tulus”, “ketaatan yang sempurna”, dan “rahmat yang melimpah”.

  • Kesadaran spiritual

    Puisi tentang Idul Adha dengan nada khidmat dan reflektif mampu membangkitkan kesadaran spiritual pembaca. Melalui puisi, pembaca diajak untuk menyadari kebesaran Allah SWT dan pentingnya menjalankan perintah-Nya dengan penuh keikhlasan.

  • Inspirasi dan motivasi

    Dengan menggugah perasaan khidmat dan reflektif, puisi tentang Idul Adha dapat menginspirasi dan memotivasi pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Puisi ini mengingatkan pembaca akan nilai-nilai luhur, seperti ketakwaan, pengorbanan, dan keikhlasan, yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, nada khidmat dan reflektif dalam puisi tentang Idul Adha sangat efektif dalam menyampaikan pesan dan makna perayaan tersebut. Nada ini membangkitkan perasaan hormat, mendorong kontemplasi, meningkatkan kesadaran spiritual, serta menginspirasi dan memotivasi pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tipografi

Tipografi dalam puisi tentang Idul Adha tidak hanya sekadar pengaturan huruf dan baris, tetapi juga dimanfaatkan untuk menciptakan efek visual yang mendukung makna dan pesan puisi. Penyair dengan cermat mengatur tipografi puisinya untuk membangkitkan emosi, mengarahkan pandangan pembaca, dan mempertegas tema pengorbanan.

  • Tata Letak Baris

    Penyair dapat mengatur tata letak baris untuk menciptakan efek visual tertentu. Misalnya, baris-baris puisi dapat disusun menyerupai bentuk hewan kurban, seperti sapi atau kambing, untuk mempertegas tema pengorbanan.

  • Ukuran dan Jenis Huruf

    Ukuran dan jenis huruf yang digunakan juga dapat mempengaruhi efek visual puisi. Huruf yang besar dan tebal dapat digunakan untuk menekankan kata-kata atau frasa penting, sedangkan huruf yang kecil dan tipis dapat digunakan untuk menciptakan kesan yang lebih lembut dan reflektif.

  • Spasi dan Margin

    Spasi dan margin di sekitar puisi dapat digunakan untuk menciptakan kesan luas dan lega, atau sebaliknya, kesan sempit dan sesak. Penyair dapat memanfaatkan spasi dan margin untuk mengarahkan pandangan pembaca dan mengatur ritme puisi.

  • Ornamen dan Ilustrasi

    Beberapa puisi tentang Idul Adha juga dilengkapi dengan ornamen atau ilustrasi yang mendukung tema dan pesan puisi. Ornamen dapat berupa bingkai, garis tepi, atau motif-motif Islami, sedangkan ilustrasi dapat berupa gambar hewan kurban, pemandangan alam, atau simbol-simbol keagamaan.

Dengan memanfaatkan tipografi secara kreatif, penyair dapat menciptakan puisi tentang Idul Adha yang tidak hanya indah secara makna, tetapi juga secara visual. Efek visual yang dihasilkan tipografi dapat memperkuat pesan pengorbanan, keikhlasan, dan ketakwaan, serta menginspirasi pembaca untuk merenungkan makna Idul Adha dalam kehidupan mereka.

Gaya

Gaya puisi tentang Idul Adha sangat beragam, mulai dari klasik hingga kontemporer. Hal ini mencerminkan kekayaan tradisi sastra Islam dan perkembangan puisi Indonesia secara umum. Gaya klasik puisi tentang Idul Adha biasanya menggunakan bahasa yang formal dan berirama, serta mengikuti kaidah-kaidah puisi tradisional, seperti pantun dan syair.

Sementara itu, gaya kontemporer puisi tentang Idul Adha lebih bebas dan eksperimental. Penyair menggunakan bahasa yang lebih santai dan tidak terikat oleh aturan-aturan tradisional. Gaya kontemporer ini memungkinkan penyair untuk mengekspresikan gagasan dan emosi mereka secara lebih personal dan kreatif.

Keberagaman gaya dalam puisi tentang Idul Adha menunjukkan bahwa tema pengorbanan dan keikhlasan dapat diungkapkan melalui berbagai bentuk dan pendekatan. Gaya klasik memberikan kesan yang khidmat dan agung, sedangkan gaya kontemporer memberikan kesan yang lebih dekat dan intim. Dengan demikian, pembaca dapat memilih gaya puisi yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan mereka.

Sebagai contoh, puisi “Idul Adha” karya Taufiq Ismail menggunakan gaya klasik dengan bahasa yang formal dan berirama. Puisi ini menggambarkan peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim AS dengan cara yang khidmat dan penuh penghayatan. Sementara itu, puisi “Hari Raya Kurban” karya Emha Ainun Nadjib menggunakan gaya kontemporer dengan bahasa yang lebih santai dan personal. Puisi ini merefleksikan makna Idul Adha dalam konteks kehidupan modern.

Dengan demikian, gaya yang beragam dalam puisi tentang Idul Adha memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kekayaan dan perkembangan sastra Islam. Gaya klasik dan kontemporer saling melengkapi dalam mengekspresikan tema pengorbanan dan keikhlasan, sehingga dapat menarik minat pembaca yang lebih luas.

Pesan

Salah satu tujuan utama puisi tentang Idul Adha adalah untuk menginspirasi, memotivasi, dan menyentuh hati pembaca. Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui penggambaran peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim AS, refleksi makna Idul Adha, dan ajakan untuk mengaplikasikan nilai-nilai pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.

Puisi tentang Idul Adha menginspirasi pembaca dengan menunjukkan teladan pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Pengorbanan yang tulus dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS menjadi contoh nyata tentang bagaimana manusia harus berbakti kepada Tuhannya. Inspirasi ini mendorong pembaca untuk merenungkan pengorbanan mereka sendiri dan meningkatkan ketakwaan mereka kepada Allah SWT.

Selain itu, puisi tentang Idul Adha juga memotivasi pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Puisi ini mengingatkan pembaca akan pentingnya nilai-nilai luhur, seperti keikhlasan, ketaatan, dan kasih sayang. Motivasi ini mendorong pembaca untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat.

Lebih jauh lagi, puisi tentang Idul Adha menyentuh hati pembaca dengan menggambarkan emosi dan perasaan yang mendalam. Penggambaran peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan refleksi makna Idul Adha dapat membangkitkan emosi haru, syukur, dan cinta kepada Allah SWT. Sentuhan hati ini membawa kesadaran spiritual dan mempererat hubungan pembaca dengan Tuhannya.

Pengaruh

Puisi tentang Idul Adha tidak hanya memiliki makna religius dan spiritual, tetapi juga memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan sastra Indonesia. Pengaruh ini terlihat melalui berbagai aspek, antara lain:

  • Tema dan nilai-nilai luhur

    Puisi tentang Idul Adha mengangkat tema pengorbanan, keikhlasan, ketaatan, dan kasih sayang. Tema-tema ini menjadi inspirasi bagi penyair Indonesia untuk mengeksplorasi nilai-nilai luhur dalam karya mereka, sehingga memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan pesan-pesan moral yang berharga.

  • Gaya bahasa dan teknik penulisan

    Puisi tentang Idul Adha umumnya menggunakan bahasa yang puitis, simbolis, dan kaya akan majas. Gaya bahasa dan teknik penulisan ini memberikan pengaruh terhadap perkembangan puisi Indonesia secara keseluruhan, mendorong penyair untuk berinovasi dalam penggunaan bahasa dan teknik penulisan.

  • Khazanah sastra religi

    Puisi tentang Idul Adha memperkaya khazanah sastra religi Indonesia. Puisi-puisi ini menjadi bagian dari tradisi sastra Islam di Indonesia dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan sastra religi Indonesia.

  • Inspirasi bagi penyair kontemporer

    Tema dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam puisi tentang Idul Adha terus menginspirasi penyair kontemporer Indonesia. Penyair kontemporer mengolah tema-tema tersebut dengan gaya dan pendekatan yang lebih modern, sehingga puisi tentang Idul Adha tetap relevan dan terus berkembang dalam khazanah sastra Indonesia.

Dengan demikian, puisi tentang Idul Adha memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan sastra Indonesia. Pengaruh ini terlihat melalui tema-tema yang diangkat, gaya bahasa dan teknik penulisan yang digunakan, pengayaan khazanah sastra religi, hingga inspirasi yang diberikan kepada penyair kontemporer. Puisi tentang Idul Adha menjadi salah satu pilar penting dalam perkembangan sastra Indonesia, memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan nilai-nilai luhur dan keindahan bahasa.

Pertanyaan Umum tentang Puisi tentang Idul Adha

Bagian ini akan menjawab beberapa pertanyaan umum tentang puisi tentang Idul Adha. Pertanyaan-pertanyaan ini dipilih berdasarkan aspek penting dan kesalahpahaman umum yang mungkin dimiliki pembaca.

Pertanyaan 1: Apa tema utama puisi tentang Idul Adha?

Tema utama puisi tentang Idul Adha adalah pengorbanan, keikhlasan, ketaatan, dan kasih sayang. Tema-tema ini dieksplorasi melalui penggambaran peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan refleksi makna Idul Adha.

Pertanyaan 2: Apakah ada gaya tertentu yang umum digunakan dalam puisi tentang Idul Adha?

Gaya puisi tentang Idul Adha sangat beragam, mulai dari klasik hingga kontemporer. Gaya klasik biasanya menggunakan bahasa formal dan berirama, sedangkan gaya kontemporer lebih bebas dan eksperimental.

Pertanyaan 3: Apa tujuan utama dari puisi tentang Idul Adha?

Tujuan utama puisi tentang Idul Adha adalah untuk menginspirasi, memotivasi, dan menyentuh hati pembaca. Puisi-puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna pengorbanan, meningkatkan ketakwaan, dan mengamalkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan 4: Apakah puisi tentang Idul Adha hanya terbatas pada tema keagamaan?

Tidak. Meskipun tema keagamaan sangat dominan, puisi tentang Idul Adha juga dapat mengeksplorasi tema-tema lain, seperti kemanusiaan, sosial, dan budaya. Puisi-puisi ini memberikan perspektif yang lebih luas tentang makna Idul Adha dalam konteks kehidupan modern.

Pertanyaan 5: Bagaimana puisi tentang Idul Adha berkontribusi terhadap perkembangan sastra Indonesia?

Puisi tentang Idul Adha memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan sastra Indonesia melalui tema-tema luhurnya, gaya bahasa yang puitis, dan inspirasi yang diberikan kepada penyair kontemporer. Puisi-puisi ini memperkaya khazanah sastra Indonesia dan menjadi bagian penting dari tradisi sastra Islam di Indonesia.

Pertanyaan 6: Di mana saya dapat menemukan contoh puisi tentang Idul Adha?

Contoh puisi tentang Idul Adha dapat ditemukan di berbagai antologi puisi, situs web sastra, dan jurnal ilmiah. Pembaca juga dapat mencari koleksi puisi tentang Idul Adha di perpustakaan atau toko buku.

Pertanyaan umum ini memberikan gambaran singkat tentang berbagai aspek puisi tentang Idul Adha. Untuk diskusi yang lebih mendalam tentang topik tertentu, silakan merujuk ke bagian selanjutnya dari artikel ini.

Lebih jauh, kita akan mengeksplorasi teknik penulisan, simbolisme, dan pengaruh puisi tentang Idul Adha dalam konteks sastra Indonesia dan perkembangan spiritual pembaca.

Tips Menulis Puisi tentang Idul Adha

Menulis puisi tentang Idul Adha dapat menjadi pengalaman yang menggugah dan bermanfaat. Berikut adalah beberapa tips untuk membantu Anda dalam proses penulisan:

Tips 1: Tentukan Tema dan Sudut Pandang
Pilihlah tema yang spesifik dan tentukan sudut pandang yang akan Anda gunakan dalam puisi. Apakah Anda ingin mengeksplorasi pengorbanan Nabi Ibrahim, makna Idul Adha, atau refleksi pribadi Anda?

Tips 2: Gunakan Bahasa yang Puitis dan Simbolis
Gunakan bahasa yang puitis, simbolis, dan kaya akan majas. Simbol-simbol yang berhubungan dengan Idul Adha, seperti hewan kurban dan pisau, dapat memperkuat makna puisi Anda.

Tips 3: Perhatikan Struktur dan Irama
Pilihlah struktur puisi yang sesuai dengan tema dan pesan yang ingin Anda sampaikan. Perhatikan juga irama dan musikalitas puisi Anda.

Tips 4: Eksplorasi Nilai-Nilai Luhur
Idul Adha adalah momen yang tepat untuk merenungkan nilai-nilai luhur, seperti pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan. Eksplorasi nilai-nilai ini dalam puisi Anda.

Tips 5: Gunakan Pengalaman Pribadi
Jangan ragu untuk menggunakan pengalaman pribadi Anda sebagai inspirasi dalam menulis puisi tentang Idul Adha. Pengalaman tersebut dapat membuat puisi Anda lebih otentik dan menyentuh.

Tips 6: Baca Puisi Idul Adha Lainnya
Bacalah puisi-puisi tentang Idul Adha karya penyair lain untuk mendapatkan inspirasi dan belajar dari teknik penulisan mereka.

Tips 7: Revisi dan Edit
Setelah selesai menulis, luangkan waktu untuk merevisi dan mengedit puisi Anda. Pastikan puisi Anda jelas, koheren, dan sesuai dengan tujuan Anda.

Tips-tips ini dapat membantu Anda dalam menulis puisi tentang Idul Adha yang bermakna dan menggugah. Dengan mengaplikasikan tips ini, Anda dapat mengekspresikan perasaan dan refleksi Anda tentang Idul Adha melalui keindahan puisi.

Dalam bagian selanjutnya, kita akan mengulas secara lebih mendalam tentang teknik penulisan puisi tentang Idul Adha, khususnya penggunaan simbolisme dan bahasa figuratif. Teknik-teknik ini akan membantu Anda membuat puisi yang berkesan dan bermakna.

Kesimpulan

Puisi tentang Idul Adha merupakan bentuk ekspresi sastra yang kaya akan makna dan nilai-nilai luhur. Melalui eksplorasi tema pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan, puisi-puisi ini memberikan inspirasi, motivasi, dan sentuhan hati bagi pembaca.

Teknik penulisan puisi tentang Idul Adha sangat beragam, mulai dari penggunaan bahasa puitis dan simbolis hingga pemanfaatan tipografi yang kreatif. Simbol-simbol yang kuat, seperti hewan kurban dan pisau, serta bahasa figuratif yang indah berkontribusi dalam menciptakan puisi yang berkesan dan menggugah.

Puisi tentang Idul Adha tidak hanya memperkaya khazanah sastra Indonesia, tetapi juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan spiritual pembaca. Puisi-puisi ini mengajak kita untuk merenungkan makna pengorbanan, meningkatkan ketakwaan, dan mengamalkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, puisi tentang Idul Adha menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan mempererat hubungan kita dengan Tuhan.



Rekomendasi Herbal Alami :

Artikel Terkait

Bagikan:

sisca

Halo, Perkenalkan nama saya Sisca. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow www.birdsnbees.co.id ya.. Terimakasih..

Ikuti di Google News

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Story Terbaru